GILA

Minggu, 22 November 2009

Menjadi Gila untuk ketidakwarasan! Menjadi Gila untuk sistem yang memarjinalkan! Menjadi Gila untuk ketidaksadaran!

Zaman iki zaman edan, ora edan ora keduman bunyi satu pameo Jawa yang terkenal itu, terserah dah anda artikan apa, namun tampaknya inilah kenyataan yang kita dapati sehari-hari, susahnya membedakan mana yang waras dan mana yang Gila, mana yang normal dan mana yang Gila. coba lihat bagaimana gilanya biaya sekolah kita, biaya berobat, “biaya” jadi PNS, biaya ini itu dan seterusnya. pertanyaannya kemudian, apa sih sebenarnya Gila itu sendiri? Dalam keseharian, mungkin bisa kita katakan bahwa Gila adalah satu yang bertolak belakang dengan satu yang normal, satu yang biasa, satu yang wajar, satu yang waras dan atau satu yang banyak dilakukan orang atau masyarakat—bukan pengertian yang dilihat dari kamus besar bahasa Indonesia! sepakat syukur, tidak ya’ lebih baik—misalnya dalam berprilaku, berpakaian itu wajar maka ketika anda bertelanjang ria di jalan-jalan bisa dipastikan anda Gila,—bisa anda buktikan, kalau mau—contoh yang lain, berkomunikasi itu membutuhkan dua orang atau lebih dan lazimnya dengan sesama manusia, nah tatkala anda bisa berkomunikasi dengan tumbuhan, hewan, batu atau dengan diri sendiri maka lagi-lagi dapat dipastikan, orang banyak akan bilang anda Gila. Jadi Nabi Sulaiman yang bisa berbahasa binatang itu Gila dong? Dari pengertian itu tentu saja jawabnya adalah “iya”, tidak saja Nabi Sulaiman lho sebenarnya, karena semua Nabi dan Rasul yang diutus Tuhan Subhanahu Wata’ala juga dikatakan Gila. Lihat gilanya Ibrahim ketika menghancurkan Tuhan-tuhan yang disembah kaumnya waktu itu, gilanya Shaleh oleh kaum Tsamud (Qs. 11 : 24), gilanya Huud dari Kaum ‘Aad (Qs. 11: 54), Nuh (Qs. 23 : 25, 54 : 9), pun tidak berbeda dengan yang dihadapi Muhammad (Qs. 23 :70). Ya, mereka semua dikatakan Gila. Demikianlah tidak seorang rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka katakan; “ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila” (Qs. 51 : 52).

Dengan begitu dapat kita simpulkan bahwa Gila adalah salah satu dari sekian banyak konstruk sosial yang ada—dari zaman bahula lagi—oleh karenanya Gila menjadi sesuatu yang tidak asing ditelinga kita, tidak sekedar cemoohan, cercaan, hinaan atau sejenisnya melainkan juga suatu ungkapan kekaguman seperti Eureka!-nya Archimedes. Namun anehnya banyak—kalau tidak boleh dibilang semua—orang yang hobby mengucapkan Gila! tidak kepengin disebut Gila, coba perhatikan seperti; “emang aku gila apa?”, “gila kali ye aku lakukan itu..”, “gendeng po’o?”, “uedan..ora gelem aku”, dan sebangsanya, padahal kalau kita perhatikan dengan seksama sebenarnya Gila tidak wajib tidak baik. Masuk akal kiranya bunyi pameo Jawa tadi ketika zaman sudah Gila maka kita mesti ikut Gila, artinya kita Gila untuk satu ketidaknormalan seperti kutipan—yang tidak akan anda dapatkan dimana-mana—diatas. Coba anda pikir sekaligus renungkan sejenak ketika hampir semua lapisan masyarakat kita melakukan korupsi dan anda tidak, banyak orang berebut kekuasaan dan anda tidak, mayoritas orang akan melakukan apa saja termasuk melacurkan diri, menjual anaknya sendiri, menggadaikan kehormatan, menjilat sana-sini untuk dapat hidup enak dan anda tidak, sebagian besar orang pengen kaya dan anda tidak, kawan-kawan anda kuliah di ruangan dingin ber-ac, anda malah teriak-teriak dipanas-teriknya mentari di depan gedung yang konon katanya milik rakyat itu. Tidak ada kata lain untuk kesemuanya, anda Gila!

Bukan suatu yang burukkan? Ya, menjadi Gila, walaupun mungkin resikonya sama seperti orang yang bisa melepaskan diri dari gua dalam cerita Plato, sama seperti Sokrates yang diperintahkan untuk meminum racun karena “meracuni” para pemuda Athena, sama seperti Copernicus yang dipenggal karena menghina Tuhan karena mengatakan bumi mengelilingi matahari, sama seperti yang dirasakan Iblis ketika semua makhluk mencemoohnya, sama seperti Joker dalam satu pak kartu remi yang selalu dimarjinalkan, tidak dipedulikan, diasingkan ditinggalkan dalam banyak permainan.. gila emang..

Read More..
 
 
 
 
Copyright © catatan yang lain